Khotbah di Atas Bukit PDF/EPUB ´ Khotbah di ePUB

Khotbah di Atas Bukit PDF/EPUB ´ Khotbah di ePUB

Khotbah di Atas Bukit [Reading] ➹ Khotbah di Atas Bukit Author Kuntowijoyo – Capitalsoftworks.co.uk Novel ini mengisahkan kehidupan Barman lelaki tua yang sudah pensiun yang berlibur ke gunung villa bersama seorang gadis muda Popi Liburan itu menjadi bermakna dan merupakan pencarian hakekat hidup da Novel ini mengisahkan kehidupan Barman lelaki tua yang sudah pensiun yang berlibur ke Khotbah di ePUB ´ gunung villa bersama seorang gadis muda Popi Liburan itu menjadi bermakna dan merupakan pencarian hakekat hidup dan perburuan spiritual yang indah baginya Kuntowijoyo mengisahkan dengan lembut dan penuh makna apa yang dikhotbahkan lelaki tua itu di atas bukit.


About the Author: Kuntowijoyo

Kuntowijoyo was born at Sanden Bantul Yogyakarta He graduated from UGM as historian Khotbah di ePUB ´ and received his post graduated at American History by The University of Connecticut in year and gained his PhD of history from Columbia University in year His father was a puppet master dalang and he lived under deep religious and art circumstances He easily fond of art and writings and became a.



10 thoughts on “Khotbah di Atas Bukit

  1. Irawan Senda Irawan Senda says:

    Ini novel yang menurut saya sangat personal dari Alm Kuntowijoyo cara penuturannya benar benar berisikan kegundahan dari si penulis sehingga harapan untuk melihat plot dan karakter tidak akan terlalu terlihat seperti novel pada umumnyaJujur saja butuh kesabaran dan perjuangan yang ekstra ketika saya membacanya karena selain alurnya sangat lambat saya juga belum menemukan sesuatu kejadian yang luar biasa dalam novel iniMungkin hal ini karena saya sendiri sebenarnya lebih sering membaca novel dengan sistem alur plot dan karakter yang pas Saya rekomendasikan novel ini hanya untuk para perenung yang sedang galau saat ini jadi jangan hanya galau saja berpikir dan berkontempelasi juga perlu


  2. Dion Yulianto Dion Yulianto says:

    “Tinggalkan segala milikmu Apa saja yang menjadi milikmu sebenarnya memilikmu” hlm 71Humam dan petuah yang diturunkannya kepada Barman sedikit mengingatkan saya pada sosok Sidharta Gautama Kepada Barman Humam mengajarkan bagaimana melepaskan diri dari segala bentuk kepemilikan karena semua di dunia ini sejatinya bukan milik kita Barman juga mendapatkan banyak pelajaran tentang menikmati waktu seirama dengan alam juga menghargai semua ciptaan Ketika kita menikmati waktu maka tak ada lagi yang namanya menunggu terlalu lama Dan dengan menghargai setiap ciptaan bahkan dalam kondisi kekurangan pun akan kita temukan keberlimpahan Hidup itu seperti alir yang mengalir yang airnya mengalir ke suatu tempat sebelum akhirnya beralih rupa menjadi wujud lain sesuai takdir yang telah digariskan Ketika kita selalu mengkhawatirkan miliki kita maka kita akan sulit menikmati hidup yang sejatihttpsdionyuliantoblogspotcoid2


  3. Bimana Novantara Bimana Novantara says:

    Waktu baca novel Murakami yang Kafka on the Shore saya cukup terkesan dengan salah satu karakternya yang seorang pelacur sekaligus mahasiswa filsafat Humor ganjil Murakami ditunjukkan lewat karakter pelacur itu saat ia membacakan kutipan filsuf favoritnya supaya pelanggannya tidak cepat ejakulasiNah ternyata Kuntowijoyo sudah lebih awal punya ide karakter semacam itu lewat novel ini yaitu seorang pelacur yang belajar filsafat yang bernama Popi Diceritakan bahwa ia harus menemani dan melayani segala keinginan seorang pensiunan diplomat bernama Barman yang memutuskan untuk menghabiskan masa tuanya di sebuah rumah di pegunungan Meskipun tidak ada adegan absurd seperti di novel Murakami tadi novel ini penuh adegan adegan ajaib yang cenderung mengawang awang dan dialog dialog filosofis Semua hal tersebut cocok dengan latar cerita di pegunungan yang menghadirkan suasana magis dan misteriusJika mengacu ke Murakami lagi latar pegunungan juga muncul di dua novelnya A Wild Sheep Chase dan Norwegian Wood Di kedua novel itu latar pegunungan memberi dampak yang signifikan pada kondisi kejiwaan karakter karakternya Begitu juga yang terjadi di novel Kuntowijoyo ini Berbagai renungan dan pencerahan menghampiri pikiran Barman setelah ia mencoba meresapi suasana alam pegunungan yang terbentang di sekitarnya Pada akhirnya lewat rentetan peristiwa yang dialami Barman dapat dipahami bahwa hidup hanya kekosongan yang membuat manusia terasing dan kebahagiaan sejati hanya dapat diraih melalui kematian


  4. Lani M Lani M says:

    Kita sebagai saksi dan pelaku cukup mengerti sebab sebab berakhirnya sebuah hidup; tua sakit kronis kecelakaan ataupun mengakhirinya sendiri Pun kita paham bahwa hidup untuk banyak orang terasa seperti penderitaan yang menyeret nyeret Namun tokoh tokoh di novel ini baik yang utama maupun sampingan kembali mengingatkan kalau rasanya tidak ada seorang pun yang tahu pasti bagaimana cara menjalani hidup yang repetitif membosankan dan harus kita maknai sendiri Atau mungkin Barman benar?


  5. Kaha Anwar Kaha Anwar says:

    Bagiku Barman tidak sedang berlibur bersama gadis cantik Popi Namun ia mencoba membuka kehidupan lagi Kehidupan sejati yang sudah lama tergerus dengan hiruk pikuk santapan dunia Seperti orang yang sudah lama tak menikmati air telaga karena terganti oplosan Barman mengira di bukit yang indah pemandangannya dan ditemani gadis cantik bisa mengobati jengahnya kehidupan TidakBarman di bukit tak menemukan kenikmatan seperti yang ia bayangkan Barman sudah loyo untuk menikmati popi yang gemulai Namunketidakberhasilan mendapatkan harapannya Barman menemukan telaga jiwa Dialog dialog yang membuatnya membongkar tentang makna hidupNovel ini cukup manis untuk disimak Penuturan yang lembut dan mengalir memikat pembaca untuk terus menyusuri jalan cerita Dan yang lebih penting adalah selipin selipin makna yang dituangkan penulis dalam setiap alur ceritanya Kita bisa berguru dan merenungkan kembali perjalanan hidup kita Mungkin kita juga seperti Barman yang telah lama tertindih gebyar dunia lama meneguk oplosan dan lupa akan segarnya air telaga yang sunyi


  6. Hikmat Hikmat says:

    Novel ini adalah risalah tentang dua dunia yang bertempur dalam diri Kunto dunia akademis dan dunia sastra dunia rasional dan dunia intuitif atau bisa juga dunia rasional dan dunia wahyu Boleh jadi kelemahan terbesarnya adalah kecenderungan berdiskusi yang kuat dalam novel ini dan bukan menekankan pada plot atau karakterisasi psikologis bahkan yang kejiwaan dalam novel ini pun terasa condong konseptual tapi tak apa juga Setidaknya Kunto di sini jujur memapar kegalauannya akan logika dalaman dua dunia itu


  7. Jiwa Rasa Jiwa Rasa says:

    Khotbah di Atas Bukit by Kuntowijoyo 2007


  8. Yuniar Ardhistikarini Yuniar Ardhistikarini says:

    ☘️ KHOTBAH DI ATAS BUKIT ☘️Slama proses mmbaca pikiran sy berputar ke mana2 Stlh mmbacanya tuntas sy merenung Mncoba mmaknai utuh pesanBukan bukan krn mnemukan bhw 'tujuan hidup' yg sharusnya dicari ditemukan manusia adl sprti tokoh Barman tp justru mkin menyadari bhw manusia adl kefanaan dg realitas hdupnya sndiri Dan sberapa pun kuatnya manusia ia tak akn bs sampai kpd ksempurnaan hidup yg dicarinya Tidak akanMaka jika kau tanyakn knp hidup adl kegelisahan kekhawatiran ketakutan ketidakbahagiaan kesengsaraan dll? Aku hanya bisa mnjawab dg That's lifeDi dlm novel ini secara implisit Kuntowijoyo menyimbolkan keadaan dlm 3 tokoh utama Popi simbol kebahagiaan duniawi ia mewakili kondisi kenyataan Humam simbol kesufian tingkat spiritualitas yg ingin dicapai manusia Dan Barman Simbol manusia yg sllu berburu mencari ingin mncpai tingkat spiritualitas yg lbh tinggiMaka ktika Barman brtemu Humam Ia mrasa inilah kedamaian kebahagiaan kesempurnaan yg ia cari Utk mncapai itu Barman hrs mengikuti 'jejak' Humam utk mncapai kebebasan Barman hrs bisa meninggalkan semua miliknya krn kepemilikan itu belenggu trmasuk Popi simbol ksenangan duniawiNamun ketika Barman brada dlm situasi sprti Humam pertanyaannya Apakah ia bisa bebas? Bisa bahagia? Bisa damai?Kuntowijoyo menyampaikan tidakSaya sependapatAlur novel dibawa pd kisah di mana Barman mndptkan 'pengikut' yg mnjadikn Barman sbg pemimpin utk membawa 'umat' menuju kebebasan Bersama mlakukn perjalanan mnuju tmpt yg dianggap bs mmberikn kesempurnaan itu Tp ketika prjlanan smakin sulit Barman sbg pemimpin menyerukan Hidup ini tak berharga utk dilanjutkan lalu Bunuhlah dirimuKonteks ini ingin dimaknai sbg keberanian atau justru kepengecutan? Keduanya tak ada artinya Sama saja Hidup pasti berakhir dg kematian Utk apa melakukan itu jika barangkali dia pun akan dtg sbntr lg sengajatdk Di sinilah jawaban bhw manusia ttp manusiaLantas kenapa manusia ingin belajar jd tuhan jika belajar jd manusia saja msh selalu gagal?


  9. Lintang Cahyaningsih Lintang Cahyaningsih says:

    Dalam “Khotbah di Atas Bukit” Kuntowijoyo bukan berkisah tentang Barman lelaki pensiunan yang dipaksa hidup di atas bukit dan Popi kekasih muda sewaan anaknya yang rajin bercinta sehari semalam Bagi para pembaca kritis novel ini sama dengan karya karya Kuntowijoyo lainnya bercerita tentang kebebasan pikiran dan hakikat kehidupanDikisahkan kehidupan Barman yang serba kecukupan—simpanan melimpah yang diusahakan dari masa muda anak yang menjamin segala keperluan wanita cantik yang siap menemani di kala siang dan malam dan sebuah rumah kecil di puncak bukit yang penuh dengan ketenangan Saya rasa sebagian besar masyarakat perkotaan pasti mendambakan masa pensiunan seperti itu—termasuk saya Tetapi Barman tua malah dibuatnya gelisah bukan main Ia selalu teringat ajaran Humam tetangga bukit sebelah bahwa manusia tak bisa sepenuhnya bebas tanpa keberanian untuk melepaskan diri dari hal hal duniawiUlasan lengkap dapat dibaca di


  10. Puri Kencana Putri Puri Kencana Putri says:

    Milikmu sesungguhnya adalah belenggumu Khotbah di Atas Bukit Lama sekali saya akhirnya membaca buku yang memiliki tingkat krisis eksistensialis sedalam dan seintens buku ini Kita tahu linear hidup yang akan berujung pada kematian entah melalui proses penuaan sakit kronis; atau siklus hidup yang tidak terduga kematian mendadak bahkan hingga mengakhiri hidup dengan cara bunuh diri Namun sesungguhnya tidak ada yang bisa mengetahui bagaimana satu manusia menjalani lika liku hidupnya Buku ini juga mengingatkan saya tentang pola hidup anti ngoyo mengalir tidak memaksa diri sendiri untuk membenahi segala sesuatunya dengan seorang diri Seperti membenahi kabel yang kusut atau pertemanan yang rumit dan hubungan lainnya yang toxic Mirip seperti omelan ibu saya jika saya pulang kerja dengan muka kuyu dan minta kerokan Mbok dikurang kurangi ngoyonya Mengalir saja Mungkin dengan begitu hidup akan jauh lebih sederhana dengan menyederhanakan harapan Mungkin


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

10 thoughts on “Khotbah di Atas Bukit

  1. Irawan Senda Irawan Senda says:

    Ini novel yang menurut saya sangat personal dari Alm Kuntowijoyo cara penuturannya benar benar berisikan kegundahan dari si penulis sehingga harapan untuk melihat plot dan karakter tidak akan terlalu terlihat seperti novel pada umumnyaJujur saja butuh kesabaran dan perjuangan yang ekstra ketika saya membacanya karena selain alurnya sangat lambat saya juga belum menemukan sesuatu kejadian yang luar biasa dalam novel iniMungkin hal ini karena saya sendiri sebenarnya lebih sering membaca novel dengan sistem alur plot dan karakter yang pas Saya rekomendasikan novel ini hanya untuk para perenung yang sedang galau saat ini jadi jangan hanya galau saja berpikir dan berkontempelasi juga perlu

  2. Dion Yulianto Dion Yulianto says:

    “Tinggalkan segala milikmu Apa saja yang menjadi milikmu sebenarnya memilikmu” hlm 71Humam dan petuah yang diturunkannya kepada Barman sedikit mengingatkan saya pada sosok Sidharta Gautama Kepada Barman Humam mengajarkan bagaimana melepaskan diri dari segala bentuk kepemilikan karena semua di dunia ini sejatinya bukan milik kita Barman juga mendapatkan banyak pelajaran tentang menikmati waktu seirama dengan alam juga menghargai semua ciptaan Ketika kita menikmati waktu maka tak ada lagi yang namanya menunggu terlalu lama Dan dengan menghargai setiap ciptaan bahkan dalam kondisi kekurangan pun akan kita temukan keberlimpahan Hidup itu seperti alir yang mengalir yang airnya mengalir ke suatu tempat sebelum akhirnya beralih rupa menjadi wujud lain sesuai takdir yang telah digariskan Ketika kita selalu mengkhawatirkan miliki kita maka kita akan sulit menikmati hidup yang sejatihttpsdionyuliantoblogspotcoid2

  3. Bimana Novantara Bimana Novantara says:

    Waktu baca novel Murakami yang Kafka on the Shore saya cukup terkesan dengan salah satu karakternya yang seorang pelacur sekaligus mahasiswa filsafat Humor ganjil Murakami ditunjukkan lewat karakter pelacur itu saat ia membacakan kutipan filsuf favoritnya supaya pelanggannya tidak cepat ejakulasiNah ternyata Kuntowijoyo sudah lebih awal punya ide karakter semacam itu lewat novel ini yaitu seorang pelacur yang belajar filsafat yang bernama Popi Diceritakan bahwa ia harus menemani dan melayani segala keinginan seorang pensiunan diplomat bernama Barman yang memutuskan untuk menghabiskan masa tuanya di sebuah rumah di pegunungan Meskipun tidak ada adegan absurd seperti di novel Murakami tadi novel ini penuh adegan adegan ajaib yang cenderung mengawang awang dan dialog dialog filosofis Semua hal tersebut cocok dengan latar cerita di pegunungan yang menghadirkan suasana magis dan misteriusJika mengacu ke Murakami lagi latar pegunungan juga muncul di dua novelnya A Wild Sheep Chase dan Norwegian Wood Di kedua novel itu latar pegunungan memberi dampak yang signifikan pada kondisi kejiwaan karakter karakternya Begitu juga yang terjadi di novel Kuntowijoyo ini Berbagai renungan dan pencerahan menghampiri pikiran Barman setelah ia mencoba meresapi suasana alam pegunungan yang terbentang di sekitarnya Pada akhirnya lewat rentetan peristiwa yang dialami Barman dapat dipahami bahwa hidup hanya kekosongan yang membuat manusia terasing dan kebahagiaan sejati hanya dapat diraih melalui kematian

  4. Lani M Lani M says:

    Kita sebagai saksi dan pelaku cukup mengerti sebab sebab berakhirnya sebuah hidup; tua sakit kronis kecelakaan ataupun mengakhirinya sendiri Pun kita paham bahwa hidup untuk banyak orang terasa seperti penderitaan yang menyeret nyeret Namun tokoh tokoh di novel ini baik yang utama maupun sampingan kembali mengingatkan kalau rasanya tidak ada seorang pun yang tahu pasti bagaimana cara menjalani hidup yang repetitif membosankan dan harus kita maknai sendiri Atau mungkin Barman benar?

  5. Kaha Anwar Kaha Anwar says:

    Bagiku Barman tidak sedang berlibur bersama gadis cantik Popi Namun ia mencoba membuka kehidupan lagi Kehidupan sejati yang sudah lama tergerus dengan hiruk pikuk santapan dunia Seperti orang yang sudah lama tak menikmati air telaga karena terganti oplosan Barman mengira di bukit yang indah pemandangannya dan ditemani gadis cantik bisa mengobati jengahnya kehidupan TidakBarman di bukit tak menemukan kenikmatan seperti yang ia bayangkan Barman sudah loyo untuk menikmati popi yang gemulai Namunketidakberhasilan mendapatkan harapannya Barman menemukan telaga jiwa Dialog dialog yang membuatnya membongkar tentang makna hidupNovel ini cukup manis untuk disimak Penuturan yang lembut dan mengalir memikat pembaca untuk terus menyusuri jalan cerita Dan yang lebih penting adalah selipin selipin makna yang dituangkan penulis dalam setiap alur ceritanya Kita bisa berguru dan merenungkan kembali perjalanan hidup kita Mungkin kita juga seperti Barman yang telah lama tertindih gebyar dunia lama meneguk oplosan dan lupa akan segarnya air telaga yang sunyi

  6. Hikmat Hikmat says:

    Novel ini adalah risalah tentang dua dunia yang bertempur dalam diri Kunto dunia akademis dan dunia sastra dunia rasional dan dunia intuitif atau bisa juga dunia rasional dan dunia wahyu Boleh jadi kelemahan terbesarnya adalah kecenderungan berdiskusi yang kuat dalam novel ini dan bukan menekankan pada plot atau karakterisasi psikologis bahkan yang kejiwaan dalam novel ini pun terasa condong konseptual tapi tak apa juga Setidaknya Kunto di sini jujur memapar kegalauannya akan logika dalaman dua dunia itu

  7. Jiwa Rasa Jiwa Rasa says:

    Khotbah di Atas Bukit by Kuntowijoyo 2007

  8. Yuniar Ardhistikarini Yuniar Ardhistikarini says:

    ☘️ KHOTBAH DI ATAS BUKIT ☘️Slama proses mmbaca pikiran sy berputar ke mana2 Stlh mmbacanya tuntas sy merenung Mncoba mmaknai utuh pesanBukan bukan krn mnemukan bhw 'tujuan hidup' yg sharusnya dicari ditemukan manusia adl sprti tokoh Barman tp justru mkin menyadari bhw manusia adl kefanaan dg realitas hdupnya sndiri Dan sberapa pun kuatnya manusia ia tak akn bs sampai kpd ksempurnaan hidup yg dicarinya Tidak akanMaka jika kau tanyakn knp hidup adl kegelisahan kekhawatiran ketakutan ketidakbahagiaan kesengsaraan dll? Aku hanya bisa mnjawab dg That's lifeDi dlm novel ini secara implisit Kuntowijoyo menyimbolkan keadaan dlm 3 tokoh utama Popi simbol kebahagiaan duniawi ia mewakili kondisi kenyataan Humam simbol kesufian tingkat spiritualitas yg ingin dicapai manusia Dan Barman Simbol manusia yg sllu berburu mencari ingin mncpai tingkat spiritualitas yg lbh tinggiMaka ktika Barman brtemu Humam Ia mrasa inilah kedamaian kebahagiaan kesempurnaan yg ia cari Utk mncapai itu Barman hrs mengikuti 'jejak' Humam utk mncapai kebebasan Barman hrs bisa meninggalkan semua miliknya krn kepemilikan itu belenggu trmasuk Popi simbol ksenangan duniawiNamun ketika Barman brada dlm situasi sprti Humam pertanyaannya Apakah ia bisa bebas? Bisa bahagia? Bisa damai?Kuntowijoyo menyampaikan tidakSaya sependapatAlur novel dibawa pd kisah di mana Barman mndptkan 'pengikut' yg mnjadikn Barman sbg pemimpin utk membawa 'umat' menuju kebebasan Bersama mlakukn perjalanan mnuju tmpt yg dianggap bs mmberikn kesempurnaan itu Tp ketika prjlanan smakin sulit Barman sbg pemimpin menyerukan Hidup ini tak berharga utk dilanjutkan lalu Bunuhlah dirimuKonteks ini ingin dimaknai sbg keberanian atau justru kepengecutan? Keduanya tak ada artinya Sama saja Hidup pasti berakhir dg kematian Utk apa melakukan itu jika barangkali dia pun akan dtg sbntr lg sengajatdk Di sinilah jawaban bhw manusia ttp manusiaLantas kenapa manusia ingin belajar jd tuhan jika belajar jd manusia saja msh selalu gagal?

  9. Lintang Cahyaningsih Lintang Cahyaningsih says:

    Dalam “Khotbah di Atas Bukit” Kuntowijoyo bukan berkisah tentang Barman lelaki pensiunan yang dipaksa hidup di atas bukit dan Popi kekasih muda sewaan anaknya yang rajin bercinta sehari semalam Bagi para pembaca kritis novel ini sama dengan karya karya Kuntowijoyo lainnya bercerita tentang kebebasan pikiran dan hakikat kehidupanDikisahkan kehidupan Barman yang serba kecukupan—simpanan melimpah yang diusahakan dari masa muda anak yang menjamin segala keperluan wanita cantik yang siap menemani di kala siang dan malam dan sebuah rumah kecil di puncak bukit yang penuh dengan ketenangan Saya rasa sebagian besar masyarakat perkotaan pasti mendambakan masa pensiunan seperti itu—termasuk saya Tetapi Barman tua malah dibuatnya gelisah bukan main Ia selalu teringat ajaran Humam tetangga bukit sebelah bahwa manusia tak bisa sepenuhnya bebas tanpa keberanian untuk melepaskan diri dari hal hal duniawiUlasan lengkap dapat dibaca di

  10. Puri Kencana Putri Puri Kencana Putri says:

    Milikmu sesungguhnya adalah belenggumu Khotbah di Atas Bukit Lama sekali saya akhirnya membaca buku yang memiliki tingkat krisis eksistensialis sedalam dan seintens buku ini Kita tahu linear hidup yang akan berujung pada kematian entah melalui proses penuaan sakit kronis; atau siklus hidup yang tidak terduga kematian mendadak bahkan hingga mengakhiri hidup dengan cara bunuh diri Namun sesungguhnya tidak ada yang bisa mengetahui bagaimana satu manusia menjalani lika liku hidupnya Buku ini juga mengingatkan saya tentang pola hidup anti ngoyo mengalir tidak memaksa diri sendiri untuk membenahi segala sesuatunya dengan seorang diri Seperti membenahi kabel yang kusut atau pertemanan yang rumit dan hubungan lainnya yang toxic Mirip seperti omelan ibu saya jika saya pulang kerja dengan muka kuyu dan minta kerokan Mbok dikurang kurangi ngoyonya Mengalir saja Mungkin dengan begitu hidup akan jauh lebih sederhana dengan menyederhanakan harapan Mungkin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *